Sejarah Desa Tamidung

Desa Tamidung berasal dari kata Tamenggung yang artinya Tameng dhadhana oreng Aghung ( Pelindung badan orang Mulya atau terpandang ) maksud dari kata Tamenggung berkaitan dengan sumber Agung Nepa, dimana terdapat musholla di samping sumber Agung Nepa dari zaman kerajaan hingga sekarang musholla masih tetap utuh dan kokoh. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar konon katanya jika ada seseorang yang mengalami gangguan pendengaran maka pendengaran orang tersebut dapat kembali normal jika membenturkan kepala tiga kali ke tembok musholla dengan membaca sholawat.
Desa Tamidung merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep. Desa Tamidung berada pada ketinggian 87 MDPL ( Meter Dalam Permukaan Laut ) dan memiliki jumlah penduduk berkisar 5.394 orang dan terdiri dari 1.599 Kepala Keluarga yang mencakup dari 7 dusun yaitu Dusun Togu, Dusun No’om, Dusun Panabasen, Dusun Laok Songai, Dusun Mojung, Dusun SP Timur dan Dusun SP barat

Desa Tamidung bisa disebut  desa petani. Masyarakat desa ini tergolong pada desa yang masih menggunakan cara-cara atau sistem lama dalam kehidupan bersosial dan berbudaya. Daerah ini memiliki sumber daya alam di sektor perkebunan dan peternakan (kambing dan bebek). Salah satu penghasil komoditas perkebunan adalah siwalan, Pisang dan kelapa. Desa Tamidung  Mempunyai potensi siwalan, pisang, kelapa yang melimpah, siwalan di desa ini digunakan sebagai bahan baku  pembuatan gula aren dan pisang hanya di olah menjadi kripik pisang dan tidak ada inovasi pembuatan produk lain yang berbahan dasar dari buah siwalan dan pisang. Kondisi sosial dan budaya cukup baik, karena menggunkan sistem lama. Cara hubungan antara yang satu dengan yang lain sangat erat, mereka kental dengan budaya lama, misalkan budaya gotong royong dalam berbagai apapun. 
Oldest